Museum Kebangkitan Nasional dan Gagasan Kebangsaan Para Pelajar

Jakarta, carolinabeachfamilycampground Indonesia

Kalau mendengar kata

kebangkitan nasional

, yang terbayang mungkin nama Boedi Oetomo, 20 Mei, lalu pelajaran sejarah tentang lahirnya kesadaran untuk bersatu melawan penjajahan. Tapi, pernahkah terpikir dari mana gagasan itu bermula?

Salah satu jawabannya bisa ditemukan di sebuah gedung tua di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Bangunan yang kini dikenal sebagai

Museum Kebangkitan Nasional

itu dulunya merupakan tempat pendidikan kedokteran bagi pemuda bumiputra, School tot Opleiding van Inlandsche Artsen atau STOVIA.

Dari luar, bangunannya memang sudah memberi kesan sebagai peninggalan masa lampau. Begitu masuk lebih jauh, suasananya terasa seperti membawa pengunjung kembali ke masa ketika para pemuda harus belajar kedokteran di tengah wabah penyakit, keterbatasan tenaga medis, dan pemerintahan kolonial.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berawal dari wabah dan sekolah dokter Djawa

Kisahnya bermula dari persoalan kesehatan. Pada pertengahan abad ke-19, pemerintah Hindia Belanda menghadapi berbagai wabah penyakit, termasuk cacar, kolera, dan disentri. Tenaga medis juga terbatas, sedangkan mendatangkan dokter dari Belanda membutuhkan biaya besar.

Kondisi itu membuat pemerintah Hindia Belanda membangun sekolah kedokteran dan vaksin bagi anak-anak bumiputra, yang kemudian dikenal dengan nama Dokter Djawa School atau Sekolah Dokter Jawa.

Sekolah tersebut terus berkembang. Pada 1901, Direktur Sekolah Dokter Djawa, H.F. Roll, mengusulkan perubahan status sekolah menjadi pendidikan tinggi kedokteran. Nama sekolah pun berubah menjadi STOVIA. Gedung STOVIA di Hospitaal Weg kemudian diresmikan pada 1 Maret 1902.

Jejak kehidupan pelajar STOVIA

Salah satu bagian yang terasa paling dekat dengan kehidupan para pelajar adalah area asrama. Tempat tidur, kasur, lemari, hingga berbagai gambaran kehidupan sehari-hari membuat STOVIA terasa bukan sekadar sekolah tua yang menyimpan buku dan dokumen.

Pengalaman itu dibuat lebih hidup lewat fitur audio. Pengunjung dapat mengenakan headphone dan mendengarkan cerita dari sudut pandang karakter yang menggambarkan kehidupan para pelajar di asrama.

Rasanya seperti mendengar kembali percakapan yang mungkin pernah terjadi di tempat tersebut lebih dari satu abad lalu.

Museum juga menyediakan berbagai media interaktif lain. Ada layar informasi hingga mini bioskop yang bisa digunakan untuk mengenal cerita STOVIA dengan cara yang tidak melulu membaca tulisan di dinding.

Ada pula ruang direktur yang dahulu digunakan H.F. Roll. Ruangan tersebut menjadi tempat menerima tamu dari berbagai instansi sekaligus membina pelajar yang membutuhkan bimbingan khusus.

Roll dikenal dekat dengan para pelajar dan memperhatikan kenyamanan mereka selama menempuh pendidikan. Ia bahkan pernah membela Soetomo ketika pemuda tersebut terancam dikeluarkan dari STOVIA karena aktivitasnya dalam organisasi pergerakan Boedi Oetomo.

Dari sinilah, cerita STOVIA mulai terasa bergeser.

Sekolah dokter ini perlahan bukan hanya melahirkan tenaga medis, tetapi juga menjadi tempat bertemunya gagasan tentang pendidikan, masyarakat, dan masa depan bangsa.

Simak ulasan selengkapnya di halaman berikutnya..

Lalu, apa hubungannya dengan Kebangkitan Nasional?

Pertanyaan di atas mungkin muncul setelah melihat bahwa tempat ini awalnya merupakan sekolah dokter. Jawabannya ada pada para pelajar yang pernah berkumpul di dalamnya.

Pada 20 Mei 1908, sejumlah pelajar STOVIA mendirikan Boedi Oetomo. Organisasi tersebut menjadi salah satu tonggak penting munculnya gerakan kebangsaan Indonesia.

Perjuangan melawan penjajahan perlahan mengambil bentuk baru. Bukan hanya perlawanan fisik dan bersifat kedaerahan, tetapi juga perjuangan melalui pendidikan, organisasi, gagasan, dan kesadaran untuk bersatu sebagai sebuah bangsa.

Pada 8 Agustus 1908, sebuah rapat membahas pelaksanaan kongres pertama Boedi Oetomo yang kemudian digelar di Yogyakarta pada 3-5 Oktober 1908. Biaya kongres sebagian berasal dari pelajar STOVIA yang rela menjual barang berharga milik mereka.

Kalau dipikir-pikir, kisahnya cukup sederhana. Sekumpulan pelajar berkumpul, berdiskusi, menyusun rencana, bahkan rela melepaskan barang milik sendiri demi sebuah organisasi. Tapi dari ruang-ruang semacam itulah gagasan kebangsaan mulai menemukan bentuknya.

Boedi Oetomo memang menjadi salah satu cerita terbesar yang melekat pada STOVIA. Namun, para pelajar dan lulusan sekolah ini juga memiliki kisah masing-masing.

Ada Tirto Adhi Soerjo, misalnya. Ia pernah menempuh pendidikan di STOVIA sebelum akhirnya dikeluarkan. Tirto dikenal sebagai tokoh pers yang menggunakan tulisan untuk menyuarakan kepentingan masyarakat pribumi.

Ada pula Ki Hajar Dewantara yang kemudian dikenal sebagai tokoh pendidikan nasional.

Kisah-kisah tersebut membuat STOVIA terasa seperti titik temu berbagai bentuk perjuangan. Ada yang bergerak melalui kedokteran, pendidikan, pers, organisasi, hingga gagasan politik.

Mereka mungkin memiliki jalan yang berbeda, tetapi berangkat dari satu hal yang sama yaitu pengetahuan.

Dari sekolah dokter menjadi Museum Kebangkitan Nasional

Pada 5 Juli 1920, seluruh pendidikan dokter dipindahkan ke gedung baru di Salemba yang memiliki fasilitas lebih memadai. Bangunan STOVIA di Weltevreden kemudian digunakan sebagai asrama.

Fungsi gedung itu terus berubah seiring waktu, sampai akhirnya ditetapkan sebagai Museum Kebangkitan Nasional.

Kini, hanya dengan membayar tiket masuk Rp5 ribu, pengunjung bisa melihat kembali ruang-ruang yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan para pelajar STOVIA.

Ada ruang kelas, ruang direktur, ruang rekreasi, ruang gymnastiek, hingga asrama. Benda-benda dan teknologi interaktif di dalamnya membantu menghubungkan ruang-ruang tersebut dengan cerita orang-orang yang pernah mengisinya.

Kebangkitan nasional tidak lahir begitu saja pada satu tanggal. Ia tumbuh dari ruang-ruang pendidikan, dari pertemuan para pemuda, dari buku yang dibaca, percakapan yang dilakukan, dan keberanian untuk membayangkan kehidupan yang berbeda.

STOVIA mungkin awalnya dibangun untuk memenuhi kebutuhan tenaga medis di tengah wabah. Tapi di tempat yang sama, para pemuda menemukan sesuatu yang jauh lebih besar, gagasan bahwa pengetahuan bisa menjadi bekal untuk memperjuangkan kebebasan.

Buat kamu yang mau datang ke sini, museum buka setiap hari Selasa-Minggu, pukul 08.00-16.00 WIB. Kumpulkan stempelnya untuk museum passport kamu!

Museum Kebangkitan Nasional dan Gagasan Kebangsaan Para Pelajar

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:

1

2

Baca lagi: Sinopsis The End of Oak Street, Sekeluarga Mendadak Dikejar Dinosaurus

Baca lagi: Prabowo: Rakyat Indonesia Paling Miskin Pun Masih Bisa Tersenyum

Baca lagi: FOTO: Kilau Pesona Hujan Meteor Perseid di Langit Malam

6 Responses

  1. Sangat menyenangkan menemukan artikel dengan pembahasan yang lengkap seperti ini. Informasinya disampaikan secara ringan namun tetap memberikan banyak wawasan. Terima kasih sudah berbagi konten bermanfaat. Jangan lupa kunjungi situs kami BAGUS365 DAFTAR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: